Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Sabar



Kadang, tak semua yang kita inginkan bisa terwujud. Tak lain dan tak bukan karena itu salah satu bagian dari rentetan mata rantai dalam siklus seseorang. Tak pernah terpikir untuk melawan kehendak yang sudah pasti akan datang dan menyapa kita. Mungkin tak semuanya berupa kesenangan, tapi tak juga terdiri atas kesedihan. Tak ada yang tahu sampai kapan hidup dengan kesenangan itu akan berakhir,dan bagaimana pula kesedihan itu akan berganti.

Tak dapat ku yakini, tak dapat juga tuk di sangkal. Masih banyak di sekitar kita yang kurang berkecukupan. Tak perlu jauh-jauh ke kota-kota besar untuk melihat gelandangan berkeliaran, meratapi bagaimana pengemis berusaha tersenyum di balik penatnya jalan, dan bagaimana para pengamen mendendangkan akustiknya agar orang lain melirik.

Sempat terbesit dalam benak, sampai kapan hal memilukan seperti itu harus terus kita tonton?

Saya mungkin orang yang paling egois, di kala orang lain berusaha untuk menghindari zaman yang sewaktu-waktu dapat menggusur mereka. Saya hanya menghabiskan waktu untuk meratapi perasaan yang tak karuan. Sampai titik tertentu ku menyadari, bahwa tiap orang hidup dengan masalahnya masing-masing. 
Tak mungkin kita bertahan dengan semua siksaan hidup jika kita tak mampu menanganinya.

Ya, bagi kalian yang belum menemukan jawaban atas semua yang di pertanyakannya. Bagi mereka yang masih mengurung diri dari kehidupan. Bagi mereka yang masih berjalan dalam derasnya arus. Dan bagi mereka yang sudah putus dalam perjuangannya.

Satu kata yang ingin ku sampaikan…

SABAR!

Ikhlas



Memang berat merelakan sesuatu yang telah kita anggap sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Tak di pungkiri pasti rasa sedih,kecewa,tak terima, dan ingin bersamanya lagi merupakan luapan emosi yang sering kita lihat. Mereka yang bisa merelakannya sungguhlah kuat, tak semua individu dapat begitu saja melepas apa yang telah ada di sampingnya selama ini.

Tak banyak kata yang terlontar, tangisan mungkin untuk sebagian orang sangatlah mudah. Linangan air mata yang jatuh mungkin bagi mereka tidak sebanding dengan kebersamaan yang mungkin sudah tak bisa tergantikan lagi.

Alangkah berbahagianya mereka yang masih memiliki orang terkasih. Mereka yang begitu mudahnya menyakiti dan meninggalkan belum tentu paham dengan makna kata menyayangi yang sesungguhnya. 

Mungkin belum mereka rasakan,tapi perpisahan itu akan datang. Layaknya seperti ending dari semua judul film ataupun novel,segala sesuatu yang bermula pastilah berakhir.

Terlebih lagi,untuk zaman yang begitu cepat seperti ini. Dengan segala kesibukan yang orang kerjakan selama ini. Suatu saatpun mereka pasti menyadari. Sesuatu yang mungkin akan dirindukannya lagi. Dan sesuatu yang akan dibutuhkannya lagi.

Sebagai penulis, saya ingin berbagi. Merelakan serta ikhlas merupakan hal yang terdengar sepele. Tapi dari situlah awal dari pembaruan akan muncul dan menjadi jalan baru untuk kita yang lagi sedang bersedih.

Layaknya sebuah cerita yang berakhir bahagia, tatkala akan ada juga akhir tak bahagia!

I Feel So Alone

Feelings abysmally and indeterminate. As evidence that any heart problems always hinder movement and pace. Somehow she always just do like this. And honestly this is the most severe of all. Do not know what else to say or do anything to get back the same way again. Or maybe never will again.
 

Although the answers and the solutions I've seen, I can not escape from this problem. It is true that heart problem always paralyze every human being, hinder creativity and ability of each person to develop.
 

This has probably always been approached, although a lot of the books I read that not all of the things I worry about always the case. Nevertheless, I am still ordinary beings or creatures that are too plain and can not apply what men like in general?
 

Nothing, that no words can describe in detail what actually happened. And hope still further that I can strive for, KEEP HOPE WE CAN BACK AGAIN AS USUALLY.
Amen ..

Jumat, 22 Agustus 2014

Syukur



Apa yang sebenarnya yang saya butuhkan?

Terjawab sudah,semua bentuk kekhawatiran sampai dengan sikap pesimistis telah lama menjadi boomerang untuk pribadiku. Dan akhirnya kini ku dapatkan jawabannya. Sholat,Al-Qur’an,doa,sedekah dan amalan lainlah yang menjadi kunci jawaban atas semua masalahku yang tak pernah terpecahkan. Sebagai orang yang lalai, ku sadari memang rapuh diri ini dan rentan hati ini. Penguat itu selalu ku gantungkan terhadap individu yang tak pernah bisa menjadi pedomanku. Allah, cukuplah Dia yang menjadi jawaban atas kegusaran hati yang selalu dan selalu mendera saat sakit,dingin,diam,dan gelap serta pekatnya kehidupan ataupun mungkin sifat yang ku miliki.

Memang benar saya orang yang setia dan penuh kasih sayang. Tapi kenapa selalu berujung dengan penyiksaan diri sendiri?

Terjawab sudah, tak harus ku ubah jati diri ini,bukan karena saya yang salah. Tapi karena individu yang ku berikanlah yang belum mampu untuk menerimanya. Inilah yang seharusnya saya cari, seorang individu yang mampu untuk menerimanya. Tetapi, sembari mencari tak seharusnya saya melupakan siapa penciptaku dan siapa yang mengatur segala kehidupanku serta yang menentukan takdir hidupku. Inilah yang salah dari prinsip yang saya jalani. Janganlah menggantungkan harapanmu terhadap manusia,karena pada dasarnya mereka adalah makhluk yang rapuh dan tatkala bisa melakukan dosa yang bahkan tanpa mereka sadari.

Terima kasih yaa Allah,inilah yang selama ini kucari.

Ku yakinkan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan atas semua pesan hasrat jiwa yang tak pernah ku duga ini.

Alhamdulillah ku panjatkan pada-Mu.

Memang Benar



Memang benar,tak salah lagi semua dugaan itu. Tak berkutik lagi kebohongan atas fakta itu. Bukan hanya sekedar dugaan dan alibi semata. Ketika rasa yang bermain,melebihi batas atas kemampuan logika dan nalar. Tak berdayalah semua itu.

Memang benar,semua perasaan jelek yang mendera. Atas sikap maupun perkataan yang terucap. Tak bisa lagi di sembunyikan luka itu. Sakit mungkin iya,tak hanya sekedar bermain di angka satu,dua,tiga, dan seterusnya. Ini masalah hati,berani berbuat atasnya maka beranilah untuk tunduk padanya.

Memang benar semua bisikkan dan ucapan angin yang ada. Tak salah kalau kabar burung itu masuk kemudian berhembus dengan kencangnya. Yang jadi masalah sekarang,apakah kabut hitam itu mau pergi atau akan semakin pekat dengan tambahan hujan deras beserta anginnya?

Memang benar engkau salah!

apa yang sebenarnya di harapkan?



Tak jelas sebenarnya apa yang ku harapkan. Sekejap senang, kemudian sekejap berubah menjadi sedih. Begitu banyak harapan. Yang pada akhirnya tidak semuanya yang bisa terwujud. Tak mau terima keadaan,terkadang menjadi pilihan. Tidak,mungkin sebagai bentuk ketidakpuasaan atas apa yang ada dan telah terjadi.

Buku La Tahzan membisikkannya,”janganlah telalu larut dalam kesedihan dan janganlah tenggelam dalam kesenangan”. Pesan yang ku tangkap bahwa ingatlah kebahagiaan ketika sedih dan ingatlah sedih ketika bahagia. Kenyataan yang tidak mungkin semua orang bisa laksanakan.

Salah kalau mungkin mengartikannya lain. Tapi memang benar,dalam keadaan bimbang dan tak jelas mana langkah yang benar. Canggung rasanya untuk selalu minta pendapat orang lain atas masalah yang mungkin dikatakan berulang kali. Meski itu sahabat karib sendiri. Terjebak dalam lingkaran yang tak berujung,pokok permasalahannya hanya itu-itu saja. Apakah mungkin diri ini yang belum sampai pada tingkat dewasa? Ataukah pengalamanku untuk mengatasinya yang bisa dibilang tingkatan rookie?

Pada intinya, ini belumlah cukup!